Sejarah PPI Aachen

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Aachen didirikan pada 4 Mei 1956 bersamaan dengan berdirinya PPI Jerman. Organisasi ini dibentuk dalam rangka mendukung dan membantu pelajar Indonesia di Aachen. PPI Aachen pertama kali dipimpin oleh Peter Manusama, dengan Liem Keng Kie sebagai bendahara, dan B.J. Habibie sebagai sekretaris saat ia berkuliah di RWTH Aachen. Pada 1957, sidang perwakilan anggota pertama diadakan, dan melalui pemilihan umum, B.J. Habibie terpilih menjadi ketua PPI Aachen.

Pada tahun itu juga, PPI Aachen di bawah pimpinan B.J. Habibie mencetuskan Seminar Pembangunan. Seminar ini, sesuai dengan namanya, membawa beberapa tema diskusi seputar pembangunan Indonesia, terutama dalam tema industri dan teknologi, terutama industri strategis seperti industri penerbangan, telekomunikasi dan perkapalan. Selain itu, ada juga diskusi mengenai SDM serta pembahasan mengenai isu-isu politik pada saat itu.

Foto B.J. Habibie bersama teman-teman PPI

Foto B.J. Habibie bersama teman-teman PPI

Pada awal 1990-an, PPI Aachen terus berkembang dengan semakin banyaknya pelajar Indonesia yang datang, terutama melalui program beasiswa dari BPPT dan IPTN. Pada 1993, PPI Aachen dipimpin oleh Yoshua, seorang mahasiswa Elektroteknik di RWTH Aachen yang juga aktif di komunitas Kristen PERKI. Pada 1995, kepemimpinan PPI Aachen dipegang oleh Andy Sugiarto, seorang mahasiswa Studienkolleg berusia 19 tahun, menjadikannya ketua termuda PPI di Jerman saat itu.

Selama periode ini, PPI Aachen aktif mengadakan berbagai kegiatan, termasuk pertemuan rutin di Katakomben untuk diskusi, permainan, dan program PPI. PPI Aachen juga mengorganisir kunjungan tokoh seperti Amien Rais, bekerja sama dengan KBRI Bonn dalam menyambut pejabat RI, serta mengorganisir perjalanan perwakilan dari PPI Jerman untuk perayaan 17 Agustus 1995 di London.

Logo PPI Aachen pra-2011

Logo PPI Aachen pra-2011

Sejak akhir era 1990-an, PPI Aachen telah menjadi wadah penting bagi mahasiswa Indonesia yang aktif secara akademik, sosial, dan kebudayaan. Pada Mei 1998, Aachen menjadi tempat diskusi pergerakan mahasiswa yang intensif di KHG, dilanjutkan dengan pertunjukan seni kebudayaan di Einhard-Gymnasium pada September 1998, serta penggalangan dana kemanusiaan untuk korban krisis di Aceh pada tahun 1999. Namun, perbedaan pandangan pasca-kegiatan tersebut menyebabkan dinamika internal yang berujung pada masa vakum organisasi antara tahun 1999 hingga 2004.

PPI Aachen kembali diaktifkan pada tahun 2004 seiring dengan kepercayaan yang diberikan kepada Aachen sebagai tuan rumah simposium ilmiah ISEC. Momen kebangkitan ini mencapai puncaknya pada tahun 2011, ketika PPI Aachen bekerja sama dengan I-4 (Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional) sukses menggelar simposium berskala Eropa di RWTH Aachen. Acara ini menghadirkan Presiden ke-3 RI B.J. Habibie serta dihadiri lebih dari 500 peserta dari berbagai negara.

Kuliah Umum Prof. Habibie di Aachen tahun 2011 [Dari kiri: Hilde Scheidt (Bürgermeisterin der Stadt Aachen, Bündnis 90/Die Grünen), Prof. Ernst Schmachtenberg (damaliger Rektor der RWTH Aachen), Prof. B. J. Habibie, Iris Kreutzer (Leiterin des Kommunalen Integrationszentrums Aachen und Region), Sri Budiarti Tunruang (Ketua Arbeitskreis Indonesien e. V.), Sasmaya Tillotama (Ketua PPI Aachen 2011/2015), Achmad Adhitya (Pengurus I-4 di Eropa), Feby Kumara Adi (Ketua PPI Aachen 2007/2009) dan Lilian Lie (pembawa acara)]

Kuliah Umum Prof. Habibie di Aachen tahun 2011 [Dari kiri: Hilde Scheidt (Bürgermeisterin der Stadt Aachen, Bündnis 90/Die Grünen), Prof. Ernst Schmachtenberg (damaliger Rektor der RWTH Aachen), Prof. B. J. Habibie, Iris Kreutzer (Leiterin des Kommunalen Integrationszentrums Aachen und Region), Sri Budiarti Tunruang (Ketua Arbeitskreis Indonesien e. V.), Sasmaya Tillotama (Ketua PPI Aachen 2011/2015), Achmad Adhitya (Pengurus I-4 di Eropa), Feby Kumara Adi (Ketua PPI Aachen 2007/2009) dan Lilian Lie (pembawa acara)]

Pada tahun 2021, PPI Aachen bersama dengan PPI Jerman sukses menyelenggarakan ICONIC setelah sempat vakum akibat pandemi. ICONIC sendiri merupakan acara yang memberikan wadah bagi mahasiswa Indonesia di seluruh dunia untuk mengumpulkan dan mempresentasikan hasil riset serta penelitian mereka.

Kekuatan PPI Aachen berakar pada tradisi kolaborasi dan gotong royong yang kuat dengan berbagai kelompok masyarakat Indonesia di Aachen seperti KIIA, KMKI, dan Perki. Selain itu, PPI Aachen secara aktif menjalin kemitraan erat dengan institusi lokal Jerman, termasuk International Office RWTH, AStA, KHG, dan Pemerintah Kota Aachen.

ICONIC 2022

ICONIC 2022

Saat ini, PPI Aachen membantu dan mendukung lebih dari 500 pelajar Indonesia yang berada di Aachen dan sekitarnya. Dengan semakin meningkatnya jumlah pelajar Indonesia, baik yang menempuh pendidikan dalam program Ausbildung, Bachelor, Master, PhD, dll, peran PPI Aachen semakin signifikan dalam membantu pelajar Indonesia beradaptasi dan berkembang di lingkungan akademik serta sosial di Jerman.

Gema Merdeka 17an 2025

Gema Merdeka 17an 2025